Cuma Mimpi (?)
“Mas, majalah Teen Idolnya ada?”
“Ada mbak, monggo...”
“Makasih mas.”, aku menerima majalah yang disodorkan mas-mas penjaga kios, dan sebagai gantinya aku memberikan selembar uang 20ribuan kepadanya.
Sesampainya di rumah, di kamar tepatnya, tanpa babibu aku langsung membuka halaman “Cover Boy 2011”. Nico, Alvin, nah ini dia yang kucari! Yoga Permana Putra, artis baru yang beberapa kali kulihat wajahnya nongol di TV sebagai model iklan dan pemain pembantu di FTV, tapi langsung bikin aku ngefans berat sama dia, padahal tenar aja belum. Kayaknya sih, dia merintis karir awal sebagai model. Buktinya, sekarang dia terpilih menjadi salah satu finalis “Cover Boy 2011”.
“Ya ampun… Lex, ganteng banget!” Kataku pada Alexandra, sahabat karibku dari TK.
“Idih… Clariss, kayak gitu kok dibilang cakep? Cakepan juga Entis Sutisna!” Aku melotot padanya. Oh iya, seperti yang sudah disebutkan Alex tadi, namaku Clariss.
“Lex, elo katarak ya?” Tanyaku ngasal. Yang ditanya cuma mlengos.
@@@
Sepulangnya Alex, aku terus mandangin wajah Yoga di majalah dan baca profilnya. Selesai makan, selesai mandi, bangun tidur siang, yang aku pegang udah pasti majalah. Sambil membaca majalah di ruang TV, aku mempertajam pendengaranku. Siapa tahu ada suara Yoga di FTV atau iklan.
Dari artikel yang kubaca, ternyata Yoga sekarang kelas XI, satu tahun di atasku. Asalnya dari kota Bandung, makanya sekarang dia lagi bingung, gimana caranya biar bisa tetep eksis merintis karir di Jakarta, tapi sekolahnya nggak keteteran. Wah, pindah sekolah aja di Jakarta, sekolahku SMAN 101 Jakarta juga pasti nerima kok! Hehe…
Sampe nggak kerasa, sekarang udah jam 10 malem! Aku masuk ke kamar untuk bersiap-siap tidur. Sebelum tidur pun aku masih memikirkan wajah Yoga yang cakep itu. Hmmm… jadi senyum-senyum sendiri.
@@@
The shocking day at school! Oh-my-God… Aku nggak percaya dengan apa yang sedang kulihat. Yoga Permana Putra ada di sekolahku!! Lebih tepatnya, sekarang dia berdiri di hadapanku, di depan kantor kepala sekolah. Tadinya aku sedang berjalan menuju kelasku, namun langkahku terhenti begitu melihat sosok Yoga. Aku melihat Yoga dengan mata kepalaku sendiri. Ya Tuhan… Ya Tuhan… Ya Tuhan…!!! Untung aja aku nggak pingsan, tapi kakiku gemetaran, keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Mau apa Yoga disini, disekolahku? Ada urusan apa?? Seseorang keluar dari kantor Kepala Sekolah dan mempersilakan Yoga masuk. Dengan kaki masih gemetaran aku lanjut berjalan menuju kelas.
Dari kabar yang kudengar, Yoga pindah sekolah ke Jakarta demi melancarkan karirnya sebagai model dan artis pendatang baru. Dia tidak pindah rumah ke Jakata, di Jakarta dia hanya ngekos. Huaaaaaaaa!! Ingin teriak rasanya saking senangnya.
Selama di sekolah, pikiranku terus melayang ke Yoga. Ternyata wajahnya lebih manis jika dilihat secara langsung. Belajar jadi nggak konsen, makan di kantin jadi jaim gara-gara ada Yoga. Yoga juga jadi Hot Topic di sekolah hari itu. Kelas XI IPA 1 heboh banget waktu tau Yoga dimasukin ke kelas mereka. Aku sih nggak berharap, aku kan masih kelas X. Banyak yang pengin jadi temen Yoga, nggak terkecuali aku. Banyak juga cewek yang tebar pesona ke Yoga, dan parahnya, nggak terkecuali juga aku! Ugh…
Sepulang sekolah, aku pulang dengan berjalan kaki. Rumahku memang nggak terlalu jauh dari sekolah, jadi kalo pulang sekolah aku biasa jalan kaki. Kurang lebih 30 menit waktu yang diperlukan untuk berjalan dari sekolah ke rumahku. Nggak apa-apa, anggep aja olahraga. Tapi kalo berangkat sekolah, jangan harap aku jalan kaki. Siap 15 menit sebelum bel masuk aja udah untung.
Ternyata, The shocking day belum berakhir! Saat hendak membuka pagar rumah, aku melihat mobil sedan merah berhenti di depan rumahku. Aku dibuat terkejut (lagi) oleh orang yang keluar dari sedan tersebut. Oh-my-God itu Yoga! Apa dia ngebuntutin aku? Jangan Ge-eR! Ngeh kalo ada aku berdiri disini aja kayaknya enggak.
Yoga berjalan menuju rumah Bu Narto, tetangga depan rumah yang membuka kos-kosan cowok. Jadi, Yoga ngekos di rumah Bu Narto? Eit, jangan salah. Kos-kosan Bu Narto itu termasuk mewah. Biayanya pun nggak murah, kalo nggak salah sebulannya Rp 1.500.000,-! Yang ngekos disana udah pasti orang-orang kaya semua. Beberapa anak SMA 101 yang ngekos disana juga setauku anak-anak yang terkenal kaya. Jadi panteslah buat artis macam Yoga.
Beberapa hari setelah kedatangan Yoga, kami jadi saling kenal. Selain karena satu sekolah, juga karena kita tetanggaan. Eh, padahal aku nggak kenal lho sama anak kos Bu Narto yang lain, termasuk anak-anak SMA 101 yang ngekos disana. Jadi sebenarnya aku yang sok ngajak kenalan lebih dulu waktu sore-sore ngelihat dia duduk sendirian di depan rumah Bu Narto sambil ngutak-atik Handphone-nya. Nggak apa-apalah, buang rasa gengsi plus malu sesaat demi artis idola. Setelah basa-basi sedikit, aku terus terang sama dia kalo aku fans beratnya dan pengin kenal lebih dekat sama dia. Ternyata dia orangnya low profile banget, nggak sombong walau udah jadi artis yang mulai terkenal. Enak diajak ngomong pula. Duh… jadi makin cinta. Eh??
Setelah saling kenal, makin lama aku dan Yoga makin dekat. Kita jadi sering pulang-pergi sekolah bareng, jalan-jalan bareng, main bareng, belajar bareng, pokonya serba bareng deh. Anak-anak SMA 101 jadi banyak yang ngiri sama aku karena bisa deket sama Yoga. Hehe… Sampe nggak kerasa, udah dua bulan aku kenal Yoga, juga ujian semester I yang bikin frustasi udah selesai. Setelah pembagian rapot, anak-anak kos pada pulang kampung, nggak terkecuali Yoga yang lagi nggak ada jadwal shooting.
Suatu hari, bangun tidur aku buka jendela kamar. Pemandangan yang pertama kulihat adalah rumah Bu Narto, kos-kosannya Yoga. Aku menyandarkan kepala di tepi jendela. Sepi. Hmm… Kalo Yoga nggak ada, kok kayak ada yang hilang ya? Biasanya kalo lagi nganggur, Yoga suka main kerumah. Mama juga udah kenal baik sama Yoga. Ternyata mama fans berat Yoga juga. Kekeke.
Sambil bengong aku mengingat-ingat lagi kejadian dari pertama kali ketemu Yoga di sekolah sampe bisa jadi teman dekatnya. Semuanya terasa cepet banget. Dua bulan bareng-bareng Yoga, kok berasa Cuma beberapa jam ya?
@@@
“Kak Clar…”
“Hm…?”
“Kak Clar…!”
“Hm…???” dengan kesal aku menoleh, dan mendapati nggak ada seorangpun di dalam kamarku selain aku. Tapi kenapa suara adekku serasa terus bergema di dalam kamar?
“Kak Clar… Kak Clar…!” Buuukkk! Aww… dengan masih setengah sadar, aku mengelus kepalaku yang kesakitan habis “dicium” lantai.
“Bangun kak, udah jam 6. Ntar aku telat ke sekolah nih... Kalo kakak sih aku nggak peduli! Tapi kita kan berangkatnya barengan?! Kalo kakak telat aku juga telat dong!” Aku mengucek mataku yang terasa pedih dan masih mengantuk, nggak menggubris kata-kata adekku tadi yang jelas-jelas “ngajak perang”.
“Lho, kok aku ada di lantai sih?? Tadi kan aku lagi… Ohh… Yoga dek! Yoga!” Aku tersadar dan bangkit dari tidurku. Tiba-tiba ingatanku kembali ke Yoga seperti sebuah flashback. Satu sekolah sama Yoga, tetanggaan sama Yoga, pulang-pergi sekolah bareng Yoga, main bareng Yoga… Waktu dua bulan yang berasa cuma beberapa jam. Oh-my-God, jangan bilang kalo…
“Kakak mimpi apa sih? Tidur sampe nyenyak banget gitu? Pake nyebut-nyebut nama sapa tuh? Yoga-yoga…” aku melongo…
“Tidaaaaaaaaaaak!”
@@@
Dengan gontai aku berjalan dari gerbang menuju kelasku. Aku galau. Ya… ternyata, kisahku dengan Yoga-yang ternyata memang hanya terjadi dalam beberapa jam-itu cumi! Cuma mimpi! Mimpi yang nggak akan pernah jadi kenyataan. Aku mengomel dan mengeluh dalam hati, kenapa itu semua cuma mimpi? Kalo memang ditakdirkan semuanya cuma mimpi, kenapa aku harus bangun? Aku nggak mau bangun!
Lamunanku seketika buyar. Langkahku terhenti, kakiku gemetaran, dan keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku saat aku mendapati seorang laki-laki yang sangat familier berdiri di depan kantor Kepala Sekolah. Ya, dia adalah Yoga Permana Putra. Oh-my-God…
Betty Woro Pratiwi (09) / XII IA 5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar